Penyelidikan terhadap nahkoda kapal Norgas Cathinka

Coat of Arms of Indonesian province of South S...

Coat of Arms of Indonesian province of South Sumatra. (Photo credit: Wikipedia)

BAKAUHENI – Penyelidikan terhadap nahkoda kapal Norgas Cathinka, Ernesto Lat, JR (53), beserta Chief Officer, Su Jibing (38) dan Cristian Briyan Sioson (22), selaku ordinary seaman terus dilakukan.

Tim penyidik dari Direktorat Polair Polda Lampung, bersama-sama  Direktorat Reserse Kriminal Khusus, dan Mabes Polri terus melakukan pemeriksaan secara maraton terhadap ketiganya.

Informasi yang beredar, ketiganya telah ditetapkan sebagai tersangka. Namun, hal itu disangkal  Kepala Divisi (Kadiv) Humas Polda Lampung, AKBP Sulistyaningsih.

Kepada Radar Lampung, perwira Polisi berpangkat dua melati di pundak ini  mengatakan, pihaknya masih melakukan pemeriksaan terhadap nahkoda kapal Norgas Cathinka dan awaknya. Dan belum ada yang ditetapkan sebagai tersangka terkait insiden karamnya KMP Bahuga Jaya (26/9), yang mengakibatkan 7 orang tewas itu.

“Penyelidikan masih terus berjalan. Kita tidak dapat begitu saja menetapkan mereka sebagai tersangka. Apalagi, ini berkaitan dengan warga Negara asing. Jadi pemeriksaan harus dilakukan secara mendalam,”katanya saat dihubungi melalui ponselnya kemarin sore (28/9).

Lalu apakah Polda Lampung juga bakal berkoordinasi dengan Mahkamah Perairan terkait insiden itu? Ia tidak menjawabnya dengan tegas. Ia hanya mengatakan penanangan insiden itu akan dilakukan bersama-sama pihak terkait lainnya.

Sementara, Komandan TNI Angkatan Laut (Lanal) Panjang, Lampung, Kolonel Laut E. Fery Sidjaya sebelumnya mengatakan,

Pemeriksaan terhadap nahkoda kapal norgas Cathinka dan awak kapal nya terus dilakukan.

Ia menerangkan, pihaknya akan berkoordinasi dengan  pihak kepolisian untuk bisa langsung mendapatkan keterangan dari nahkoda itu sebagai bahan evaluasi TNI AL.

Diungkapkan, setidaknya ada beberapa factor yang diduga sebagai penyebab bertabrakannya dua kapal itu.

Diantaranya perbedaan bahasa dalam memahami rambu-rambu dan lampu navigasi yang ada. Semestinya kata Fery, jika ada dua unit kapal yang melaju dari arah berbeda, kapal saling berkoordinasi. Dan jika lampu navigasinya hijau dan hijau semestinya sama-sama ke kanan. Sehingga tidak terjadi tabrakan.”Kemungkinan, kedua nahkoda saling menunggu. Sementara kapal terus berjalan sehingga terjadi tabrakan,”terangnya.

Kemudian, faktor lainnya adalah karena situasi pada saat kejadian masih gelap sehingga pandangan terbatas. Ini menururtnya bisa menjadi penyebab terjadinya insiden itu. Kemudian penyebab lainnya bisa karena cuaca. Karena ombak dan angin kencang, sehingga kapal terombang-ambing terbawa angin. ”Ini baru kemungkinan dan analisa-analisa. Saat ini pun kami masih mengumpulkan keterangan-keterangan terkait insiden itu,”ungkapnya. (kjhls)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s